Mitos Pengangguran SMK Dibongkar du Bandung: Data Bicara Lain di Usia Kemerdekaan RI ke-81
Pertanyaan ini menjadi benang merah dalam sebuah diskusi terbuka yang mempertemukan pihak sekolah, pengusaha, komunitas, hingga media, tepat di momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.
BANDUNG – Selama ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kerap dicap sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi di Indonesia.
Namun, benarkah stigma tersebut sepenuhnya berlaku bagi semua SMK, ataukah persoalannya justru lebih kompleks dari sekadar angka statistik semata?
Pertanyaan ini menjadi benang merah dalam sebuah diskusi terbuka yang mempertemukan pihak sekolah, pengusaha, komunitas, hingga media, tepat di momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.
Diskusi ini bermula dari data Tracer Study SMK Negeri 1 Bandung tahun 2024 yang justru menunjukkan gambaran berbeda dari stigma yang selama ini berkembang.
Dari total lulusan yang tercatat, sebanyak 172 orang atau 44,2 persen langsung bekerja, 105 orang atau 27 persen melanjutkan studi, 50 orang atau 12,9 persen memilih melanjutkan studi sekaligus bekerja, dan 32 orang atau 8,2 persen melanjutkan studi sambil berwirausaha.
Sementara itu, 18 orang tercatat memilih jalur wirausaha penuh, dan hanya dua orang lulusan yang masih berstatus mencari kerja.
Data ini menegaskan bahwa persoalan pengangguran lulusan SMK yang kerap disorot secara nasional maupun tingkat provinsi Jawa Barat, tidak serta-merta bisa digeneralisasi untuk semua sekolah.
Termasuk SMK Negeri 1 Bandung yang justru menunjukkan tingkat serapan kerja dan keberlanjutan pendidikan yang cukup tinggi.
Menanggapi hal ini, pengusaha asal Bandung, Perry Tristianto, menilai bahwa kunci utama kesuksesan lulusan SMK di dunia kerja bukan semata soal keterampilan teknis atau skill, melainkan karakter.
Menurutnya, skill bisa dipelajari kapan saja, bahkan hingga usia tua sekalipun, namun karakter harus dibentuk sejak dini, Kamis (27/08/2026).
"Skill bisa dipelajari sampai tua, tapi karakter harus dibangun sejak muda," ujar Perry, yang mengaku mempekerjakan ratusan karyawan tanpa mensyaratkan latar belakang pendidikan sarjana, asalkan memiliki karakter dan etos kerja yang baik.
Ia turut mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu bergantung pada teknologi seperti kecerdasan buatan maupun kalkulator, karena kemampuan dasar berpikir dan mengamati lingkungan sekitar dinilai jauh lebih penting untuk membangun kepekaan bisnis maupun profesionalisme kerja.
Dari sisi kelembagaan pendidikan, Kepala SMK Negeri 1 Bandung, Dra. Lilis Yuyun, M.MPd, menjelaskan bahwa sekolahnya terus berupaya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran melalui anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPD).
Meski diakui belum sepenuhnya mencukupi seluruh kebutuhan. Sekolah pun menerapkan skala prioritas dalam pemenuhan fasilitas belajar bagi para siswa.
Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah penyelarasan kurikulum bersama industri di seluruh kompetensi keahlian yang ada di sekolah tersebut.
Melalui kolaborasi ini, sekolah dapat memastikan fasilitas maupun materi pembelajaran yang diberikan benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia kerja terkini, termasuk pemenuhan perangkat teknologi sesuai standar industri.
Lilis menegaskan, selain kompetensi teknis atau hard skill, pihak sekolah turut menanamkan pendidikan karakter secara konsisten kepada para siswa, mengacu pada nilai Pancawaluya yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, yakni cageur, bageur, bener, pinter, dan singer, sebagai fondasi karakter khas masyarakat Sunda yang diharapkan melekat pada diri setiap lulusan.
Sementara itu, Cofounder Komunitas Bandung Ngariung, Martin B. Chandra, menyoroti pergeseran besar dalam relasi kerja antara tenaga kerja dan dunia industri saat ini.
Ia menjelaskan, pola kerja konvensional yang mengejar status karyawan tetap perlahan mulai bergeser ke arah sistem kontrak dengan pengukuran produktivitas berbasis output harian atau Output Per Day.
Martin menegaskan, komunitas tidak memiliki kewenangan untuk memaksa dunia industri membuka pintu kerja bagi siapa pun, karena industri merupakan entitas bisnis yang mandiri dan memiliki kebutuhannya sendiri.
Namun, ia menekankan bahwa peran komunitas sangat penting sebagai jembatan informasi, mempertemukan proyeksi kebutuhan industri dengan potensi calon tenaga kerja muda.
Dari perspektif media, Saeful Zaman menggarisbawahi pentingnya membangun mentalitas kompetitif sejak bangku sekolah, dengan mendorong siswa selalu berusaha selangkah lebih maju dibandingkan yang lain, baik dari sisi kedisiplinan waktu maupun penguasaan ilmu.
Saeful turut mengingatkan pentingnya membaca data secara cermat dan tidak asal generalisasi.
Menurutnya, data yang menyebut SMK sebagai penyumbang pengangguran terbesar merupakan data tingkat Jawa Barat secara keseluruhan, bukan representasi khusus dari SMK Negeri 1 Bandung yang justru menunjukkan capaian berbeda.
Ia menilai, tanggung jawab utama dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan vokasi yang memadai tetap berada di tangan pemerintah.
Meski begitu, ia mengapresiasi kehadiran para pelaku usaha dan komunitas yang secara sukarela membuka ruang kolaborasi lintas generasi, mulai dari Generasi Z, milenial, hingga Generasi X, sebagai bentuk kepedulian nyata masyarakat terhadap masa depan generasi muda.
Diskusi ini pada akhirnya menegaskan satu benang merah penting: mimpi besar pelajar SMK di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81 tidak seharusnya dipatahkan oleh generalisasi data semata.
Melainkan perlu terus dipupuk lewat sinergi nyata antara sekolah, industri, komunitas, media, dan pemerintah, agar setiap lulusan benar-benar siap menghadapi dunia kerja dengan bekal skill sekaligus karakter yang mumpuni. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

