https://bandung.times.co.id/
Opini

Trading sebagai Seni Mengambil Keputusan

Selasa, 03 Februari 2026 - 17:21
Trading sebagai Seni Mengambil Keputusan Cevi Herdian, B. Sc, M. Sc., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran & Data-Driven Strategist.

TIMES BANDUNG, BANDUNG – Dalam diskursus populer dunia trading, pertanyaan yang paling sering terdengar nyaris selalu sama: ke mana harga akan bergerak? Naik atau turun? Pertanyaan ini terdengar logis, bahkan terasa alamiah bagi siapa pun yang baru mengenal pasar keuangan. Namun justru di titik inilah banyak pelaku pasar terjebak. 

Fokus berlebihan pada prediksi harga kerap menyesatkan pemahaman tentang hakikat trading itu sendiri. Trading bukanlah soal meramal masa depan, melainkan tentang mengambil keputusan yang paling rasional di tengah ketidakpastian.

Pasar keuangan tidak bekerja seperti soal matematika dengan satu jawaban benar. Ia adalah ruang kompleks yang dipengaruhi oleh banyak variabel sekaligus: data ekonomi, kebijakan moneter, sentimen geopolitik, psikologi massa, hingga emosi kolektif para pelaku pasar. 

Dalam kondisi semacam ini, mencari kepastian mutlak adalah ilusi. Tidak ada metode, indikator, atau strategi yang mampu menjamin kebenaran arah harga secara konsisten. Yang ada hanyalah probabilitas.

Namun, logika probabilitas sering kali kalah oleh hasrat manusia untuk merasa pasti. Banyak trader terjebak pada keyakinan bahwa semakin akurat prediksi mereka, semakin besar peluang keuntungan. 

Akibatnya, energi habis untuk mencari “sinyal paling sempurna”, indikator paling sakti, atau strategi yang diyakini tidak pernah salah. Ketika prediksi itu berhasil, rasa percaya diri melonjak. Tetapi ketika pasar bergerak di luar skenario, kekecewaan datang berlipat, sering kali diikuti keputusan emosional yang justru memperbesar kerugian.

Di sinilah letak kekeliruan mendasar: prediksi ditempatkan sebagai tujuan akhir. Padahal, dalam praktik trading yang lebih dewasa, prediksi hanyalah alat bantu, bukan penentu segalanya. 

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang trader merespons ketika prediksi tersebut keliru. Sebab, kesalahan bukanlah kemungkinan, melainkan keniscayaan dalam pasar yang bergerak dinamis. Pertanyaan kuncinya bukan apakah kita akan salah, tetapi seberapa siap kita menghadapi kesalahan itu.

Pendekatan yang lebih rasional memandang trading sebagai proses pengambilan keputusan berbasis probabilitas. Setiap transaksi adalah keputusan sadar yang mengandung risiko, bukan taruhan buta yang mengharapkan kepastian. 

Dalam kerangka ini, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “ke mana harga akan bergerak”, melainkan “keputusan apa yang paling masuk akal dengan risiko yang bisa saya terima”. Cara pandang ini menggeser orientasi dari hasil jangka pendek menuju keberlanjutan jangka panjang.

Satu keputusan yang berujung rugi tidak otomatis berarti keputusan itu salah. Selama keputusan tersebut diambil berdasarkan analisis yang logis, aturan yang jelas, dan manajemen risiko yang disiplin, kerugian adalah bagian dari sistem, bukan kegagalan personal. Justru kegagalan sejati terjadi ketika keputusan diambil tanpa kerangka, didorong emosi, atau mengabaikan batas risiko demi mengejar pembuktian diri.

Ironisnya, banyak trader memandang ketidakpastian sebagai musuh utama. Mereka berupaya menyingkirkannya dengan mencari sistem yang selalu benar. Padahal, tanpa ketidakpastian, pasar kehilangan maknanya. Ketidakpastian adalah alasan mengapa peluang keuntungan ada. 

Tanpanya, semua orang akan mendapatkan hasil yang sama, dan pasar tidak lagi berfungsi. Masalah muncul ketika trader menolak menerima sifat dasar ini dan memaksakan kepastian pada sesuatu yang secara alamiah tidak pasti.

Ketika realitas pasar tidak sesuai dengan ekspektasi, keyakinan terhadap sistem mulai runtuh. Disiplin goyah, aturan dilanggar, dan emosi mengambil alih kendali. 

Pada fase inilah kerugian sering kali membesar, bukan karena pasar “jahat”, melainkan karena kerangka pengambilan keputusan tidak dirancang untuk menghadapi dinamika dan ketidakpastian yang melekat di dalamnya.

Trader yang lebih berpengalaman umumnya memiliki pemahaman berbeda. Mereka tidak mengukur keberhasilan dari seberapa sering benar, melainkan dari seberapa baik mereka mengelola kesalahan. 

Mereka sadar bahwa sebagian keputusan akan berakhir tidak sesuai harapan. Namun yang dijaga adalah agar dampaknya tetap terbatas dan tidak menggerus keseluruhan modal maupun kejernihan berpikir. Dalam logika ini, disiplin lebih berharga daripada kecerdasan prediktif.

Dengan cara pandang tersebut, trading bertransformasi dari aktivitas menebak arah harga menjadi seni mengelola ketidakpastian. Fokus tidak lagi tertuju pada pencarian kepastian yang mustahil, melainkan pada konsistensi dalam mengambil keputusan rasional. 

Trading menjadi proses pembelajaran berkelanjutan tentang diri sendiri: tentang kesabaran, pengendalian emosi, dan keberanian menerima keterbatasan pengetahuan.

Selama trading masih dipersepsikan sebagai usaha menebak masa depan, rasa frustrasi akan terus berulang. Pasar keuangan tidak pernah berjanji memberi kepastian, tetapi ia selalu menyediakan peluang bagi mereka yang mampu berpikir jernih, disiplin, dan sadar bahwa masa depan tidak perlu ditebak cukup dikelola dengan keputusan yang tepat. (*)

***

*) Oleh : Cevi Herdian, B. Sc, M. Sc., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran & Data-Driven Strategist.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bandung just now

Welcome to TIMES Bandung

TIMES Bandung is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.