TIMES BANDUNG, BANDA ACEH – Dua bulan lebih setelah banjir bandang merenggut ketenangan hidup warga di Aceh, luka itu belum sepenuhnya pulih. Di Kota Langsa hingga Aceh Tamiang, rumah-rumah masih menyisakan jejak lumpur, sementara harapan warga perlahan dirajut kembali dari kepedulian sesama. Di tengah kondisi tersebut, civitas akademika Madrasah Pembangunan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Syarif Hidayatullah) hadir membawa secercah harapan.
Melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Tabungan Amal Sholeh, bantuan kemanusiaan senilai Rp200 juta disalurkan langsung kepada para korban banjir bandang, Selasa (3/2/2026).
Perjalanan penyaluran bantuan dimulai dari Kota Langsa, lalu berlanjut ke berbagai titik terdampak di Aceh Tamiang.
Tidak sekadar menyerahkan bantuan, tim UPZ Madrasah Pembangunan UIN Jakarta menyapa warga, mendengar kisah kehilangan, dan menyaksikan langsung bagaimana masyarakat bertahan di tengah keterbatasan pascabencana.
Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa uang tunai, tetapi juga menyasar kebutuhan fasilitas ibadah dan pendidikan.
Sejumlah masjid dan musala yang terdampak menerima air conditioner (AC) dan sound system, sebagai upaya menghidupkan kembali ruang-ruang ibadah yang sempat terhenti akibat terjangan banjir.
Kepala Desa Alur Bemban, Misnan, tak mampu menyembunyikan rasa haru saat menerima bantuan tersebut.
Menurutnya, bantuan yang datang di tengah kondisi sulit ini menjadi penguat moral bagi warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah banjir bandang di akhir tahun 2025 lalu.
“Bantuan ini bukan hanya soal nilai uang, tapi tentang kepedulian. Warga kami sangat terbantu dan merasa tidak sendiri,” ujar Misnan dengan suara bergetar.
Hal senada disampaikan Evi Kusumah, Kasubbag Pendidikan Dasar sekaligus Anggota Pengarah UPZ Tabungan Amal Sholeh Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah.
Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud nyata solidaritas kemanusiaan civitas akademika terhadap sesama.
“Kami datang membawa amanah dan doa dari para donatur. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban saudara-saudara kita di Aceh, sekaligus menjadi penguat bahwa kepedulian masih hidup,” kata Evi.
Hingga kini, lebih dari dua bulan pascabanjir bandang melanda wilayah Aceh, banyak warga masih berjuang memperbaiki rumah, tempat ibadah, dan sendi-sendi kehidupan yang runtuh.
Uluran tangan dari berbagai pihak masih sangat dibutuhkan, agar harapan yang sempat hanyut dapat kembali berlabuh di Tanah Rencong. (*)
| Pewarta | : Arief Pratama |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |