Pemkot Bandung dan OJK Jabar Perkuat Literasi Keuangan Disabilitas
Pemkot Bandung dan OJK Jabar meluncurkan program DIA KITA untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan bagi penyandang disabilitas di Jawa Barat.
Bandung – Pemerintah Kota atau Pemkot Bandung bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat memperkuat komitmen dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Sinergi ini ditandai dengan peluncuran flayer edukasi keuangan dalam program bertajuk “DIA KITA: Disabilitas Berdaya, Keuangan Inklusif Tercipta”, di Kantor OJK Jawa Barat, Bandung, Rabu (11/3/2026).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa sektor perbankan dan sistem keuangan tidak boleh menjadi sesuatu yang asing bagi kelompok disabilitas. Menurutnya, kepercayaan publik adalah fondasi utama stabilitas ekonomi yang harus dirasakan seluruh lapisan warga.
“Dunia perbankan dan keuangan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sistem itu kuat karena kepercayaan masyarakat. Jika kepercayaan itu hilang, dampaknya besar terhadap stabilitas negara,” ujar Farhan.
Ia menilai, inklusivitas bukan sekadar membuka akses layanan, tetapi memastikan fasilitas perbankan benar-benar ramah. Hal ini mencakup ketersediaan petugas yang menguasai bahasa isyarat hingga sistem pelayanan bagi penyandang tunanetra.
Farhan juga menyoroti pentingnya teknologi dalam mendukung akses layanan publik bagi kelompok rentan. Pemkot Bandung telah memanfaatkan teknologi identifikasi retina dalam sistem administrasi kependudukan untuk membantu penyandang disabilitas mendapatkan haknya.
“Tanpa NIK, pemerintah tidak bisa memberikan perlindungan atau bantuan. Identitas menjadi kunci agar penyandang disabilitas mendapatkan haknya, termasuk akses keuangan untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian ekonomi mereka,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, menyebut program “DIA KITA” sebagai langkah strategis memperluas literasi keuangan. Berdasarkan data, jumlah penyandang disabilitas di Jawa Barat diperkirakan mencapai 5 juta jiwa.
“Ini bukan kelompok kecil. Akses terhadap informasi dan layanan keuangan harus terbuka bagi semua. Tidak boleh ada perbedaan pelayanan di bank, asuransi, maupun pasar modal,” tegas Darwisman.
Melalui program ini, OJK ingin memastikan penyandang disabilitas memiliki pemahaman memadai mengenai pengelolaan keuangan, mulai dari perbankan hingga investasi. OJK Jawa Barat berkomitmen membangun program literasi berkelanjutan melalui edukasi dan kolaborasi komunitas.
“Harapannya, teman-teman disabilitas bisa lebih mandiri secara ekonomi. Pemahaman keuangan adalah bekal penting untuk menjalani kehidupan,” pungkas Darwisman. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


