TIMES BANDUNG, BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mematangkan rancangan teknis pembangunan Sekolah Maung (Manusia Unggul), sebuah proyek mercusuar yang digagas Gubernur Dedi Mulyadi. Sekolah ini diproyeksikan menjadi jawaban atas kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masa depan.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyatakan bahwa program pendidikan ini dijadwalkan memulai konstruksi fisik pada 2026 dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027. Saat ini, Pemprov Jabar tengah melakukan penajaman detail teknis kurikulum dan infrastruktur. “Pak Gubernur sedang mengelaborasi detailnya. Kebijakan makronya sudah disampaikan, sekarang mikronya sedang kami pertajam bersama Dinas Pendidikan,” ujar Herman di Bandung, Selasa (13/1/2026).
Berbeda dengan model pendidikan konvensional, Sekolah Maung dirancang dengan pendekatan lintas bidang yang berorientasi penuh pada kebutuhan pasar kerja (market-driven). Fokusnya adalah mencetak lulusan yang memiliki kompetensi spesifik siap serap industri dan sektor agraris.
Gubernur Dedi Mulyadi telah memetakan enam pilar utama sebagai jurusan di sekolah ini:
-
Teknologi Informasi
-
Otomotif
-
Pertanian
-
Olahraga
-
Elektro
-
Kelautan
“Intinya, kita ingin menghasilkan lulusan yang memiliki standar kompetensi sesuai kebutuhan masa kini dan masa depan, baik di dunia industri maupun pertanian. Sesuai kebutuhan pasar,” kata Herman.
Terkait lokasi, pihaknya masih melakukan pemetaan wilayah dan kapasitas sekolah untuk memastikan distribusi yang merata. Dinas Pendidikan Jabar sedang merampungkan data kuantitatif rencana jumlah siswa dan kebutuhan pendukung.
Gubernur Dedi Mulyadi menyatakan optimistis dan membuka peluang dukungan pendanaan dari pemerintah pusat untuk mempercepat akselerasi kualitas pendidikan. “Ya, siapa tahu ada rezeki (dari pusat). Tiba-tiba pusat memberi Rp1,5 triliun karena melihat jalan dan sekolah kita bagus,” ujarnya.
Program Sekolah Maung ini diharapkan menjadi standar baru (benchmark) pendidikan vokasi di Indonesia yang mampu menjawab persoalan pengangguran terdidik dengan menyelaraskan kurikulum langsung dengan kebutuhan industri. (*)
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Faizal R Arief |