Lestarikan Tradisi Daerah, Trianita Alawiah Suarakan Mapay Budaya Sunda
Lewat gagasan advokasi bertajuk Mapay Budaya, Ita berupaya mendekatkan kembali akar tradisi kepada anak muda melalui pendekatan yang relevan.
BANDUNG BARAT – Kekayaan tradisi dan kearifan lokal di tanah Pasundan membutuhkan sentuhan kreasi dari tangan-tangan muda agar tetap lestari di tengah derasnya arus modernisasi.
Kesadaran inilah yang mendorong Trianita Alawiah, seorang perempuan asal Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, untuk mengambil langkah nyata dalam menjaga warisan leluhur.
Sosok cantik berusia 23 tahun yang akrab disapa dengan Ita ini melihat bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih akrab dengan budaya global dibanding kekayaan daerahnya sendiri.
Lewat gagasan advokasi bertajuk Mapay Budaya, anak kedua dari dua bersaudara tersebut berupaya mendekatkan kembali akar tradisi kepada anak muda melalui pendekatan yang relevan.
Gerakan Mapay Budaya dan Jejak Advokasi
Kata mapay yang berarti menyusuri, menelusuri, dan mendekatkan diri dijadikan landasan oleh Trianita Alawiah dalam merancang gerakan sosialnya tersebut.
Lulusan S1 Ekonomi Syariah yang kini bekerja sebagai karyawan swasta ini memanfaatkan hobinya dalam berpetualang dan membuat konten untuk mengeksplorasi potensi kearifan lokal secara langsung.
Lewat akun media sosial Instagram miliknya di @trianitaal dan TikTok @bublegumm, ia mengemas perjalanan budaya menjadi deretan konten edukatif.
Advokasi ini direalisasikan melalui lima pilar eksplorasi, yakni Mapay Tempat dengan mengunjungi situs sejarah atau kampung adat, dan Mapay Carita yang menggali filosofi tradisi.
Kemudian Mapay Rasa untuk memperkenalkan kuliner lokal, Mapay Seni bersama para pelaku seni, hingga Mapay Basa yang mengajak anak muda menggunakan bahasa Sunda.
"Mapay Budaya hadir sebagai jembatan agar budaya Jawa Barat dapat dikemas secara lebih dekat, relevan, dan menarik bagi generasi masa kini," ujar Trianita saat menceritakan esensi gagasannya, Rabu (19/8/2026).
Jejak Prestasi dan Kiprah Kepemudaan
Dalam hal ini lebih lanjut dengan keaktifan Trianita Alawiah dalam ranah pengembangan diri dan pelestarian budaya telah membuahkan berbagai pencapaian positif.
Kiprahnya semakin dikenal luas setelah ia berhasil meraih gelar Wanoja Kameumeut sekaligus menembus jajaran 6 Besar Pasanggiri Wanoja Jajaka Budaya Jawa Barat 2026 sebagai representasi pemuda berprestasi.
Sebelum memegang amanah tersebut, dirinya juga pernah menorehkan prestasi dengan meraih selempang Juara 2 Muse se-Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2020.
Selain aktif dalam ajang unjuk bakat dan kepemudaan, pengalaman Trianita semakin lengkap lewat penghargaan sebagai Best Co-Host yang menegaskan kemampuannya dalam bidang komunikasi publik.
"Seluruh rekam jejak tersebut menjadi bekal berharga saya untuk menggemakan kampanye pelestarian kearifan lokal ke khalayak luas," katanya penuh semangat sembari tersenyum manis.
Peluang Tantangan dan Dukungan Berkelanjutan
Menjalankan advokasi berbasis media sosial diakui Trianita memiliki peluang sekaligus tantangan tersendiri. Besarnya minat generasi muda terhadap aktivitas petualangan menjadi celah potensial untuk memasukkan unsur edukasi budaya.
Meski demikian, secara khusus dia menegaskan bahwa tantangan utamanya terletak pada cara mengemas materi edukasi agar tetap autentik namun tidak terkesan kaku.
Keberhasilan langkah ini tak lepas dari sokongan penuh keluarga, rekan-rekan, serta kolaborasi strategis bersama Forum Ekonomi Kreatif (FEKRAF) Kabupaten Bandung Barat.
"Saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda jangan hanya bangga mengatakan kita orang Sunda, tetapi kenali budayanya, kunjungi jejaknya, pahami maknanya, dan ikut melestarikannya," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

