Dari Gunung Jawa Barat ke Mancanegara, Misi Cuncun Tjandra Mengangkat Martabat Kopi Lokal
Kopi 16/12 besutan Cuncun Tjandra mengangkat kopi Jawa Barat ke pasar nasional dan global, mengusung misi edukasi, keberlanjutan, dan kecintaan pada kopi lokal Indonesia.
BANDUNG – Kopi bukan sekadar minuman bagi Cuncun Tjandra. Bagi pendiri Kopi 16/12 ini, kopi adalah identitas, kebanggaan, sekaligus jalan untuk mengangkat potensi hasil bumi Indonesia agar lebih dihargai di negeri sendiri maupun di pasar global.
Sejak mulai menekuni usaha kopi pada 2020 dan resmi berizin pada 2021, Cuncun bersama timnya konsisten mengembangkan produk kopi berbasis komoditas lokal, terutama dari Jawa Barat.
Menurut Cuncun, motivasi utama terjun ke industri kopi berangkat dari kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. “Kopi ini kan hasil bumi. Kalau kita punya komoditas bagus dari tanah sendiri, kenapa harus bergantung pada produk impor? Lebih menarik mengolah hasil bumi Indonesia,” ujar Cuncun dalam wawancara, Selasa (10/02/2026)
Ia menilai Jawa Barat sebagai salah satu wilayah penghasil kopi dengan karakter rasa yang unik. Kondisi geografis berupa rangkaian gunung kecil yang tersebar dari utara hingga selatan membuat setiap wilayah memiliki profil rasa berbeda.
Mulai dari kawasan Lembang, Manglayang, Malabar, Gunung Puntang, hingga Ciwidey dan Gunung Halu, semuanya menghasilkan kopi dengan aroma dan karakter khas.
“Kopi Jawa Barat itu unik. Setiap gunung menghasilkan cita rasa berbeda. Puntang mungkin populer karena pernah juara, tapi sebenarnya Malabar, Manglayang, sampai Pepandayan juga punya karakter yang enak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keragaman rasa inilah yang menjadi kekuatan kopi lokal yang belum sepenuhnya dikenal luas.
Meski mayoritas pasar Kopi 16/12 masih berada di dalam negeri, produk mereka juga mulai menarik minat pembeli dari luar negeri. Pembeli dari Kanada, Singapura, Malaysia, Hong Kong, hingga Turki pernah membeli kopi mereka, terutama melalui ajang pameran. “Biasanya diaspora Indonesia yang tinggal di luar negeri. Mereka beli untuk mengobati kerinduan terhadap kopi tanah air,” ungkapnya.
Nama Kopi 16/12 sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Cuncun menjelaskan bahwa penggunaan angka dimaksudkan agar mudah dikenali secara universal. “Kalau huruf, tidak semua bangsa bisa baca. Tapi angka itu universal. Siapa pun bisa memahami,” jelasnya.
Lebih dari sekadar bisnis, Cuncun membawa misi edukasi dan keberlanjutan. Ia aktif di Perkumpulan Profesional dan Inovator Kopi Indonesia (PAPIKI) yang fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor kopi. Menurutnya, masa depan kopi Indonesia sangat bergantung pada generasi petani dan pelaku industri yang terampil.
“Kami sangat peduli terhadap kopi Indonesia. Kalau anak petani tidak mau jadi petani, bagaimana nasib kopi ke depan? Karena itu, pendidikan penting, mulai dari cara menanam, memetik, hingga pengolahan dan penyangraian,” katanya.
Ia berharap masyarakat semakin mencintai produk lokal dan tidak selalu menganggap kopi luar negeri lebih unggul. Baginya, kebanggaan terhadap kopi Indonesia harus dimulai dari dalam negeri sendiri. “Cintailah kopi Indonesia. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” tuturnya.
Dengan semangat tersebut, Kopi 16/12 berupaya menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar: menguatkan ekosistem kopi nasional, memperluas pasar, dan memastikan bahwa kekayaan rasa dari pegunungan Jawa Barat tetap hidup serta dikenal hingga mancanegara.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


