Memilih Beda: Kisah Raphael, Mahasiswa BINUS Kembangkan Bisnis Pakan Ternak
Sektor pakan ternak dinilai menyimpan peluang bisnis yang besar seiring meningkatnya kebutuhan industri peternakan nasional.
BANDUNG – Di tengah tren mahasiswa yang banyak merintis usaha di bidang kuliner, fesyen, maupun teknologi digital, Raphael Andreas H memilih berbeda. Mahasiswa Program Digital Business Innovation (DBI) BINUS University ini justru mengembangkan bisnis pakan ternak melalui usaha bernama Anugerah Pancing Sayuran (APS).
Keputusan tersebut sempat dianggap tidak biasa. Namun di balik kesederhanaannya, sektor pakan ternak menyimpan peluang bisnis yang besar seiring meningkatnya kebutuhan industri peternakan nasional.
Raphael memperkenalkan produknya dalam kegiatan Manawa Fest 2026, program kewirausahaan mahasiswa BINUS yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memasarkan dan mengembangkan bisnis mereka secara langsung kepada masyarakat.
Berbeda dengan tenant lain yang didominasi produk makanan dan minuman, stand APS menarik perhatian pengunjung karena menampilkan berbagai jenis bahan pakan unggas seperti jagung pecah, jagung kristal merah, biji timun, hingga campuran pakan yang ditata secara terbuka.
"Banyak pengunjung yang awalnya mengira produk kami adalah bahan makanan untuk manusia karena tampilannya cukup menarik dan bersih. Setelah dijelaskan ternyata itu pakan unggas," ujar Raphael, Senin, (22/6/2026).
Menurut dia, kualitas menjadi salah satu faktor utama yang dijaga dalam bisnis tersebut. Produk yang dipasarkan berasal dari bahan baku pilihan yang telah melalui proses pembersihan dan pengeringan sebelum dikirim kepada pelanggan.
Ia menjelaskan, kadar air pada jagung yang dipasarkan dijaga pada kisaran 14 hingga 15 persen agar tetap berkualitas dan aman digunakan sebagai pakan unggas.
"Kami menjaga kualitas karena dalam bisnis pakan, kualitas sangat menentukan hasil peternakan pelanggan," katanya.
Saat ini produk APS digunakan untuk berbagai jenis unggas seperti ayam, bebek, dan burung. Namun permintaan terbesar masih berasal dari sektor peternakan ayam yang terus tumbuh di berbagai daerah.
Meski menyediakan layanan penjualan eceran, fokus utama bisnis tersebut berada pada segmen business to business (B2B). Pembelian yang dilakukan pelanggan umumnya dalam jumlah besar, mulai dari ratusan kilogram hingga beberapa ton dalam satu kali transaksi.
Raphael mengatakan pasokan bahan baku diperoleh dari sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebagian bahan bahkan dibeli langsung dari petani guna menjaga kualitas sekaligus memastikan ketersediaan stok.
Potensi pasar yang besar terlihat dari sejumlah peluang kerja sama yang mulai berdatangan. Salah satunya adalah rencana permintaan pasokan hingga 18 ton per bulan yang nantinya akan digunakan untuk kebutuhan ekspor ke Turki melalui mitra usaha.
Peluang tersebut menunjukkan bahwa sektor pakan ternak masih memiliki prospek yang sangat menjanjikan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan konsumsi daging ayam dan telur nasional terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut secara langsung mendorong kebutuhan pakan unggas sebagai komponen utama biaya produksi peternakan.
Para pelaku usaha menilai pasar pakan ternak nasional masih terbuka lebar, khususnya bagi pemain yang mampu menjaga kualitas produk dan kontinuitas pasokan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga mulai mengubah pola pemasaran sektor ini. Pelaku usaha kini tidak lagi hanya mengandalkan jaringan konvensional, tetapi juga memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pelanggan lebih luas.
Bagi Raphael, perjalanan bisnis ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjadi sarana belajar membangun usaha secara nyata sejak masih duduk di bangku kuliah.
Melalui program Manawa Fest 2026, mahasiswa didorong untuk merasakan langsung tantangan dunia usaha mulai dari pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga membangun relasi bisnis.
"Tujuan saya sederhana, ingin terus mengembangkan bisnis agar bisa tumbuh lebih besar dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia," ujarnya.
Semangat tersebut menjadi gambaran bagaimana generasi muda mulai melihat sektor agribisnis dan peternakan sebagai peluang usaha masa depan.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, keberanian menghadirkan produk yang berbeda justru menjadi nilai tambah tersendiri.
Kisah Raphael menunjukkan bahwa peluang bisnis tidak selalu berada pada sektor yang sedang populer.
Dengan ketekunan, pemahaman pasar, dan kualitas produk yang terjaga, usaha pakan ternak pun dapat berkembang menjadi bisnis yang memiliki prospek besar di masa mendatang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

