Pramuka Jawa Barat Menanam Masa Depan, Bukan Sekadar Pohon
500 Pramuka Jabar tanam ribuan pohon di Situ Cisanti, targetkan 100 hektare hulu Citarum. Aksi GAUL jadi wujud kolaborasi dan pendidikan lingkungan berkelanjutan.
BANDUNG – Gerakan penghijauan yang digelar Gerakan Pramuka Jawa Barat di kawasan Situ Cisanti, Bandung Selatan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Di balik penanaman ribuan bibit pohon oleh ratusan anggota Pramuka, tersimpan pesan kuat tentang arah pembangunan daerah yang semakin berpijak pada keberlanjutan lingkungan.
Sebanyak 500 anggota Pramuka Penggalang dan Penegak dari Kecamatan Kertasari dan Pacet turun langsung mengikuti Gerakan Aksi untuk Lingkungan (GAUL) yang dilaksanakan di Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen kolektif menjaga kelestarian kawasan hulu Sungai Citarum melalui aksi nyata penanaman pohon.
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan bahwa penghijauan tersebut merupakan langkah strategis yang menggabungkan pendidikan karakter dengan agenda lingkungan. Menurut dia, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kemampuan menjaga daya dukung alam, Jumat (13/02/2026)
Ia menargetkan penghijauan seluas 100 hektare di kawasan hulu Citarum dengan dukungan sekitar 50.000 pohon. Tahap awal dimulai dari lahan seluas 4 hektare, disusul penanaman di 6 hektare pada pekan berikutnya, sehingga total 10 hektare lahan ditanami 5.000 pohon dalam fase awal program.
Program ini melibatkan sinergi berbagai pihak, mulai dari Kwarda Jawa Barat, Kwarcab Kabupaten Bandung, hingga sejumlah perangkat daerah seperti Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan yang turut menyediakan bibit dan pupuk organik. Kolaborasi lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan kini tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu institusi semata.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat dalam keterangannya menilai kegiatan ini mencerminkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam aksi penghijauan merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekologi dan pembangunan daerah.
Ia menekankan bahwa kawasan hulu Sungai Citarum memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat. Upaya penghijauan, kata dia, bukan hanya untuk memperbaiki kondisi lahan kritis, tetapi juga untuk meminimalkan potensi bencana seperti banjir dan longsor yang kerap terjadi akibat degradasi lingkungan.
Lebih jauh, kegiatan GAUL menjadi contoh bagaimana pendidikan nonformal melalui gerakan kepanduan dapat berkontribusi nyata terhadap agenda pembangunan berkelanjutan. Penanaman pohon bukan hanya kegiatan simbolik, melainkan juga sarana pembelajaran langsung bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Bandung, Emma Dety Permanawati, mengingatkan bahwa kegiatan penghijauan tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman. Ia meminta pembina dan peserta melakukan pemantauan rutin minimal sebulan sekali untuk memastikan bibit yang ditanam dapat tumbuh optimal.
Langkah ini penting agar program penghijauan memiliki dampak jangka panjang, bukan sekadar angka penanaman. Dengan perawatan yang konsisten, pohon-pohon tersebut diharapkan mampu memperbaiki kualitas tanah, menjaga sumber air, serta meningkatkan ketahanan ekosistem di wilayah hulu.
Kegiatan ini juga dirancang sebagai sarana edukasi di alam terbuka bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam proses penanaman dan perawatan pohon, para anggota Pramuka diajak memahami keterkaitan antara lingkungan, pertanian, dan keberlanjutan pembangunan.
Dalam konteks yang lebih luas, program penghijauan di Situ Cisanti menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah memerlukan keseimbangan antara pertumbuhan dan pelestarian. Tanpa lingkungan yang terjaga, pertumbuhan ekonomi akan kehilangan fondasi jangka panjangnya.
Gerakan Pramuka Jawa Barat, melalui program GAUL, berupaya menempatkan generasi muda sebagai motor perubahan. Mereka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang tangguh, tetapi juga menjadi penjaga lingkungan yang sadar akan tanggung jawabnya terhadap masa depan.
Di tengah berbagai tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, langkah sederhana menanam pohon di hulu sungai menjadi simbol harapan. Bagi Jawa Barat, gerakan ini bukan sekadar menanam pohon, melainkan menanam kesadaran kolektif bahwa masa depan pembangunan harus berjalan seiring dengan kelestarian alam. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


