TIMES BANDUNG, BANDUNG – Trading hari ini menjelma seperti panggung gemerlap. Media sosial penuh tangkapan layar profit, grafik yang menanjak bak roket, serta narasi “cuan konsisten” yang terdengar seperti dongeng pengantar tidur bagi para pencari jalan pintas menuju kebebasan finansial. Saham, forex, kripto semuanya dipamerkan seolah mesin pencetak uang yang tinggal ditekan tombolnya.
Namun di balik lampu sorot itu, ada ruang gelap yang jarang disorot kamera: sembilan dari sepuluh trader ritel tumbang pelan-pelan, terkuras modalnya, patah keyakinannya, lalu pergi tanpa tepuk tangan.
Pertanyaannya, mengapa kegagalan begitu massif? Apakah karena strategi mereka buruk? Ataukah pasar memang kejam terhadap pemain kecil?
Jawabannya tidak sesederhana mengganti indikator atau membeli kursus baru. Akar persoalan justru lebih sunyi, lebih dalam, dan sering diabaikan: cara memahami data, serta cara memelihara harapan.
Banyak trader percaya bahwa strategi adalah jimat. Jika belum untung, berarti jimatnya salah. Maka mereka berpindah dari satu metode ke metode lain seperti kupu-kupu mabuk cahaya: hari ini pakai RSI, besok Fibonacci, lusa bot trading, minggu depan “holy grail” versi terbaru. Grafik diganti, template diperbarui, akun dikosongkan, lalu diisi lagi dengan optimisme yang masih hangat.
Padahal strategi hanyalah pisau. Di tangan koki, ia bisa mencipta hidangan. Di tangan ceroboh, ia melukai diri sendiri.
Dua orang bisa memakai sistem yang sama, di jam yang sama, di pasar yang sama, dan pulang dengan hasil yang berlawanan. Bukan karena pasar pilih kasih, tetapi karena trading bukan sekadar soal tombol buy dan sell. Ia adalah seni membaca kekacauan, mengatur risiko, dan menahan diri ketika ego ingin menjadi raja.
Pasar keuangan tidak pernah diam. Ia seperti laut: hari ini tenang, besok menggulung kapal. Pola yang kemarin terlihat jinak bisa berubah menjadi ombak pembunuh keesokan hari. Strategi yang kemarin dipuja bisa hari ini menjadi jebakan berlapis duri.
Masalahnya, banyak trader memperlakukan data seperti kitab suci yang tak berubah. Grafik masa lalu dijadikan peta masa depan, seolah pasar punya kewajiban mengulang jejaknya sendiri.
Padahal data pasar bukan batu nisan yang beku. Ia hidup, bergerak, dipengaruhi ribuan tangan tak terlihat: kebijakan bank sentral, konflik geopolitik, rumor, ketakutan, keserakahan, bahkan cuitan seorang tokoh. Data hanyalah potret sesaat dari arus besar emosi manusia yang sedang bertransaksi.
Mengambil kesimpulan mutlak dari data historis tanpa memahami sifat rapuhnya sama seperti mengira arah angin besok hanya dari melihat bendera hari ini.
Di sinilah banyak trader tergelincir. Mereka membangun rumah harapan di atas pasir statistik. Ketika pasar bergeser sedikit saja, fondasi pun runtuh, menyeret akun ke jurang margin call.
Namun data bukan satu-satunya biang keladi. Ada penyakit lain yang lebih halus tapi mematikan: ekspektasi yang terlalu tinggi.
Trading dipromosikan seperti jalan tol menuju kaya raya. Kerja dari rumah, waktu fleksibel, profit harian. Kerugiannya jarang dipajang, seperti aib keluarga yang disimpan di ruang belakang.
Akibatnya, banyak pemula masuk pasar dengan mental lotre. Mereka berharap tiap transaksi adalah tiket emas. Begitu rugi, mereka marah. Bukan pada keputusan sendiri, tapi pada pasar, broker, sistem, bahkan dunia.
Padahal dalam dunia profesional, rugi bukan musuh. Ia adalah biaya hidup. Seperti napas pendek seorang pelari maraton, kerugian adalah bagian dari perjalanan panjang. Tidak ada sistem yang selalu benar. Bahkan strategi terbaik pun sesekali tersandung.
Yang membedakan trader yang bertahan dan yang tenggelam bukan kemampuan menghindari rugi, melainkan keberanian mengakuinya, membatasinya, dan melanjutkan perjalanan tanpa kehilangan kepala.
Saat ekspektasi terlalu tinggi, emosi mengambil alih kemudi. Loss kecil terasa seperti kiamat. Disiplin ditinggalkan, rencana dilanggar, risiko dilipatgandakan demi “balik modal”.
Di titik ini, pasar tidak perlu memukul keras; trader sudah menghantam dirinya sendiri. Trading bukan perlombaan siapa paling sering menang, melainkan siapa paling lama tidak mati.
Ia bukan tentang menaklukkan pasar, melainkan berdamai dengan ketidakpastian. Bukan soal menemukan strategi sempurna, tetapi membangun sistem berpikir yang waras: membaca data dengan rendah hati, mengatur risiko dengan dingin, dan menurunkan ekspektasi ke tanah yang realistis.
Trader yang bertahan lama memahami satu hal sederhana: tujuan utama bukan menjadi pahlawan sehari, tetapi menjadi penyintas bertahun-tahun.
Maka kegagalan 90 persen trader bukanlah tragedi individu semata. Ia adalah cermin budaya instan, pendidikan setengah matang, dan narasi palsu tentang kekayaan cepat.
Selama trading masih diperlakukan seperti mesin slot dengan grafik, selama data dianggap ramalan, dan selama harapan dibiarkan melambung tanpa tambang realitas, maka angka kegagalan akan tetap setia: tinggi, sunyi, dan berulang. Pasar tidak kejam. Ia hanya jujur. Yang sering berdusta adalah harapan kita sendiri.
***
*) Oleh : Cevi Herdian, B. Sc, M. Sc., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran & Data-Driven Strategist.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |