“Nayan dan Misteri Warna”: Alarm Dini Buta Warna pada Kesehatan Mata Anak Menggema dari Bandung
Dr. dr. Antonia Kartika, SpM(K), M.Kes dan Dr. dr. Aaron Tigor Sihombing, Sp.U(K), penulis buku Nayan berfoto bersama Fllise Kunaryanto saat peluncuran buku Nayan di Gramedia TSM. (FOTO: Djarot/TIMES Indonesia)

“Nayan dan Misteri Warna”: Alarm Dini Buta Warna pada Kesehatan Mata Anak Menggema dari Bandung

RS Mata Cicendo dan Gramedia luncurkan buku “Nayan dan Misteri Warna” di Bandung, mengedukasi anak dan orang tua soal deteksi dini buta warna lewat cerita dan kegiatan interaktif.

TIMES Bandung,Sabtu 2 Mei 2026, 22:29 WIB
294
D
Djarot Mediandoko

BANDUNGUpaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata anak terus digencarkan melalui pendekatan yang lebih kreatif dan edukatif. Salah satunya melalui peluncuran buku Nayan dan Misteri Warna yang digelar di Gramedia Trans Studio Bandung, Sabtu (2/05/2026).

Kegiatan yang diinisiasi RS Mata Cicendo bersama Gramedia ini tidak sekadar menjadi agenda peluncuran buku, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara dunia kesehatan, pendidikan, dan literasi. Buku karya Dr. dr. Antonia Kartika, SpM(K), M.Kes dan Dr. dr. Aaron Tigor Sihombing, Sp.U(K)ini hadir sebagai media edukasi yang menyasar anak-anak dan orang tua untuk memahami gangguan penglihatan warna atau buta warna sejak dini.

Regional Manager Bandung Gramedia Fllise Kunaryanto, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar peluncuran karya tulis. Ia menyebut, kolaborasi antara institusi kesehatan dan dunia literasi menjadi langkah strategis untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Kami melihat literasi dapat berjalan berdampingan dengan edukasi kesehatan. Melalui cerita yang sederhana dan dekat dengan anak, pesan penting tentang kesehatan mata bisa tersampaikan dengan lebih efektif,” ujarnya dalam sambutan.

Menurut Fllise, pendekatan naratif yang digunakan dalam buku ini menjadi kekuatan utama. Anak-anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga memahami kondisi kesehatan melalui pengalaman yang relatable. Di sisi lain, orang tua dapat memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan.

Direktur RS Mata Cicendo sekaligus salah satu penulis buku, Dr. dr. Antonia Kartika, menjelaskan bahwa pemilihan judul “Nayan” memiliki makna filosofis yang kuat. Kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “penglihatan”.

Ia menuturkan, penglihatan memiliki peran sangat besar dalam tumbuh kembang anak. Bahkan, sekitar 75 persen perkembangan awal anak—baik dari sisi bahasa, motorik, hingga kognitif—dipengaruhi oleh kemampuan melihat.

“Penglihatan itu bukan hanya soal jelas atau buram, tetapi juga bagaimana anak mengenali warna. Ini yang sering kali luput dari perhatian,” kata Antonia.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, sekitar 0,7 hingga 3,8 persen anak di Indonesia mengalami gangguan penglihatan warna. Meski persentasenya terlihat kecil, dampaknya terhadap proses belajar anak bisa sangat signifikan.

Dalam praktiknya, banyak metode pembelajaran di sekolah yang mengandalkan warna sebagai media utama. Kondisi ini membuat anak dengan buta warna berpotensi mengalami kesulitan dalam memahami materi, bahkan bisa berdampak pada psikologis mereka.

“Anak bisa mengalami frustrasi karena tidak mampu mengikuti instruksi berbasis warna. Sayangnya, sering kali ini disalahartikan sebagai gangguan belajar atau kurang cerdas,” ujarnya.

Melalui buku ini, Antonia berharap masyarakat dapat lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan penglihatan sejak dini. Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mengenali kondisi tersebut agar tidak terjadi kesalahan penanganan.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, kegiatan ini juga diisi dengan lomba mewarnai untuk anak-anak serta talkshow kesehatan mata. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga fasilitas seperti pemeriksaan buta warna dan voucher kacamata.

Antonia menilai, pendekatan edukatif yang dikemas secara interaktif menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Edukasi kesehatan tidak harus selalu serius. Bisa dikemas dengan cara yang menyenangkan, sehingga anak-anak pun bisa memahami sejak dini,” katanya.

Dengan kolaborasi ini, RS Mata Cicendo dan Gramedia menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana membaca, tetapi juga sebagai jembatan untuk membangun kesadaran kesehatan publik.

Peluncuran buku ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap kesehatan mata, sekaligus memperkuat peran literasi sebagai media edukasi yang berdampak luas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Djarot Mediandoko
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bandung, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.